GAGAL MOVE ON DARI PULAU ULAR 😍

Liburan singkatku kala itu, kusempatkan kunjungi Pulau Ular bersama Ansar, Papua, Deden dan bang ilong, mereka adalah sahabat-sahabat baikku, dijamin ngakak dan bahagia  terus deh sepanjang jalan hehe.

Pulau tersebut merupakan pulau kecil dengan ukuran 500 meter persegi yang berlokasi dibagian utara kabupaten Bima tepatnya di Desa Pai kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi NTB. Nah jika kalian sudah tiba di desa tsb, selanjutnya untuk menuju pulau ular kita harus menggunakan perahu/sampan yang telah disediakan masyarakat sekitar dengan waktu tempuh 15 menit dari daratan. Sebelum menyeberang ke pulau ini kita juga akan menemukan keunikan lain. Ada banyak mata air dipinggir pantai yang apabila air pantai naik maka mata air ini akan tertutup tapi anehnya air dari mata air tersebut rasanya tetap tawar seperti air yang ada dirumah-rumah pada umumnya. 

Dinamakan Pulau Ular karena di pulau ini hanya dihuni oleh ular laut dengan keunikan warnannya putih silver dengan kombinasi hitam kilat dengan jumlah puluhan bahkan ratusan dan merupakan Salah satu pulau yang berada di tengah perairan bagian timur wilayah kecamatan Wera. Pulau ini juga bersebelahan dengan dua obyek wisata daerah kabupaten Bima, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba.

Eitss tidak hanya itu, pulau ular ini menyajikan panorama yang sangat menakjubkan dengan latar pemandangan utamanya yaitu Gunung Sangiang yang berselimutkan kabut tipis. Air lautnyapun sangat sejuk sampai-sampai pertama kali sampai di Pulau ini saya langsung berenang hahaha bakal ngk bosen deh jika bercerita tentang pulau ular, bakal bikin ketagihan ingin kembali lagi.

Apakah ularnya jinak? Well ketika saya mencoba menyentuh ular-ular ini, mereka sangat jinak sekali. Mungkin karena hewan ini sudah terbiasa dengan manusia, ya? Hehe entahlah. Tapi beberapa sumber yang aku baca, ternyata ada banyak mitos dan legenda tentang pulau ular ini, salah satunya pada zaman masa Kerajaan Bima, dahulu saat terjadi peperangan antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Flores, Raja Bima yang saat itu sedang murka menghadapi Kerajaan Flores mengutuk seluruh awak kapal menjadi ular dan menjadikan kapalnya menjadi batu berbentuk seperti kapal dengan 2 tiang yang menjadi pohon jendemawa atau kamboja yang masih ada sampai sekarang.
Ada versi cerita lainnya yang menyebutkan jika ular-ular tersebut adalah jelmaan, maka dari itu warga percaya jika seseorang membawa pulang ular tersebut bisa menjadi petaka untuknya. Entah fiktif atau fakta, sebaiknya kita selalu menghormati dan tetap berperilaku baik dimanapun (sumber detiktravel.com) 




        Beberapa dokumentasi di Pulau Ular

Tapi mesipun jinak, ular alut dari Pulau Ular tidak boleh dibawa keluar dari habitatnya.
Ini adalah satu aturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung Pulau Ular.

Wah, jika kalian berkunjung ke Bima dan mampir ke Pulau Ular, apa kamu berani memegang ular ini juga? Haha percaya ngk sih kedua sahabatku Ansar dan bang ilong sangat takut, naik gunung, lewati hutan rimba ngk takut, tp jangan tanya soal takutnya ama Ular (hehe maaf yah aku tulis disini wkwkwk)

Yang paling aku sukai adalah keramahan masyarakatnya disini, dan terima kasih juga atas kebaikan papua dan keluarganya, sangat bersyukur pokoknya bisa berkunjung ke Wera, bakal susah move on ni dari tempat ini.


Ahhh WERA I love you so much